Sekalipun ini bukanlah blog pertamaku tapi aku berharap semoga blog ini bisa menjadi bagian dalam hidupku dan menjadi saksi bisu tentang perjalanan hidupku.Mungkin bagi banyak orang aku bukanlah siapa-siapa tapi aku berharap bagi beberapa orang - sekalipun itu cuma satu orang saja - aku bisa berarti dalam hidupnya.\(´▽`)/

Jumat, 29 Mei 2020

Drama Belanja Sayur

Diposting oleh S. C. N. Intan Paramitha di 5/29/2020 11:59:00 PM 0 komentar
DRAMA PERTAMA
Hari ini aku tidur jam 4 pagi. Tapi tetap bertekad bangun pagi biar bisa belanja sayur di Mas Mul, penjual sayur keliling 😁. Bangun jam 6 glundungan aja di kasur. Manteng sosmed dan marketplace jualan. Giliran udah jamnya si mas keliling dateng, perut malah ngejak gelud πŸ˜‘. Oke baiklah mungkin dia lama. Ke belakang sebentar. Eh samar-samar kedenger suara klakson motornya si masnya sayur dateng. Ya sudah cepet-cepet. Giliran akunya udah mau buka pintu masnya pergi. Biasanya kalau dari rumah aku dia mampir ke pertigaan. Langsung eim cepet-cepet lari ke depan buat nyusulin barangkali memang masih dipertigaan. Dan kau tahu? DIGEMBOK GAES πŸ˜‘. Dan kuncinya nggak ada. Nyari sambil ngedumel kan ya. Oke baiklah ternyata kuncinya semalam dimainin si bayi di kolongan sofabed πŸ˜‘. Gerrr...giliran udah kebuka gerbang rumahnya masnya udah nggak ada πŸ˜‘. Sia-sialah melek hari ini 😭😭😭.
Kenapa ya segala sesuatu yang direncanakan dengan matang malah buat emosi jiwa πŸ™„. Ibarat rencana reunian pas lebaran yang nggak kunjung bisa 🀭.

DRAMA KEDUA
Sore ini hujan lumayan deras. Aku dan si bayi memilih untuk ndekem saja di kamar. Berbekal tulang sapi yang banyak sum-sumnya dari mamah kapan hari, sosis sapi, sama makaroni akhirnya tadi aku buat sup ala-ala πŸ˜‚. Mumpung hujan pas banget nih nyuapin si bayi sup hangat. Habis mandi pula. Jadi si bayi aku kasih print gambar hewan-hewan gitu. Nggak lupa crayon warnanya. Dia ngewarnai kertas sambil disuapin aja udah seneng banget 🀭. Namanya juga bocah. Suapan pertama hingga keberapa belas baik-baik saja. Tapi entah yang ada di benak anakku apalah aku pun tak tahu. Dia mewarna sambil gulung-gulung dan alhasil makaroni yang di mulut tumpah ke baju sama rambutnya. Keramas lagi πŸ˜‘. Oke betlah kita mandi lagi πŸ˜‘. Kenapa ya realita tidak pernah seindah ekspektasinya πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘. Dan sebelum tragedi itu, untungnya mamak sempat buat status WA. Beberapa teman mamak memuji "antengnya" atau "udah bisa mewarnai dengan nyaman" 😭. TAPI MEREKA NGGAK TAHU KENYATAANNYA 😭😭😭.


Hikmah hari ini adalah setiap hal dan kejadian yang terjadi mungkin akan sangat dirindukan kelak. Saat si bayi sudah beranjak dewasa, akan ada rasa rindu polah tingkahnya yang membuat hati ini bergejolak. Tetap sabar karena namanya juga bayi, belum ngerti sepenuhnya apa yang boleh dan nggak boleh. Hanya saja mamak pengen ngejak gelud bapaknya, dulu ngebuatnya gimana πŸ˜‘. Nggak bisa gelud sama anaknya, gelud aja sama bapaknya πŸ˜‚πŸ€­.

Rabu, 27 Mei 2020

Tuhan Tak Selalu Menguji, Seringkali Dia Memberkati

Diposting oleh S. C. N. Intan Paramitha di 5/27/2020 02:20:00 AM 0 komentar
Sesuai judul yang aku buat "Tuhan Tak Selalu Menguji, Seringkali Dia Memberkati" dan yups itu yang aku rasakan. Melihat 2 tahun ke belakang, begitu kelam masa-masa yang Puji Tuhan bisa terlewati πŸ˜„. Banyak hal coba aku cari sendiri hikmahnya. Aku bukan orang yang mudah terbuka, meskipun dengan teman yang belasan tahun bersama. Aku cukup introvert. Dan yups, itu salah satu kelemahan. Jadi jangan coba dibanggakan πŸ˜….
Dua tahun ke belakang, banyak hal yang aku alami. Banyak kesulitan yang seakan Tuhan beri. Mulai dari pindah ke rumah baru yang bisa dibilang jauh dari gemerlapnya kota alias agak di desa 😁. Susah sinyal di sini, mau pasang internet rumahan nggak bisa. Kenapa? Karena belum masuk ke area perumahan di sini πŸ˜‚. Padahal kerja online butuh internet kan. Jauh dari ATM pula. Dan hebatnya, aku nggak ada m-banking. Suami juga begitu πŸ˜…. Paling kalau mau transfer titip suami pas pulang kerja atau adik. Tarik tunai juga begitu. Ada sih ATM tapi jaraknya sekitar 30 menit dari rumah. Pernah butuh banget urgent buat transfer suplier, jam 9 malam minta tolong suami buat turun gunung transfer. Kasihan sebenernya. Itu kesusahan yang kedua πŸ˜‘. Belum lagi jauh dari pasar. Tapi untungnya di perumahan ini berbagai penjual keliling dari pagi sampai siang. Ada penjual ayam, sayur, ikan, sampai terkadang penjual cemilan. Tapi terkadang. Kadang juga nggak lewat πŸ˜…. Jadi bisa dibayangkan jika tidak ada penjual yang lewat bagaimana. Mau gofood? Bisa sih tapi cari sinyal dulu. Ini bukan ngeluh ya, tapi hanya memberikan bayangan betapa aku bersyukur saat ini atas kesulitan di masa lalu.
Di fase kelam itu, aku sampai pernah pinjam uang ke teman. Ngutang πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Pada akhirnya bingung cara mengembalikan. Dan endingnya pun tidak mengenakan. Hubungan pertemanan jadi tidak baik. Terasa janggal. Tapi saat itu terjadi aku seakan tidak ingin menjelaskan karena akan terdengar seperti alasan. Dan dari masalah ngutang itu aku belajar. Tentang betapa introvertnya aku. Aku tidak ingin menjelaskan secara terperinci masalahku. Dan aku membiarkan hubungan pertemanan yang menjadi tidak baik ini biar saja semakin tidak baik.
Dan sekarang aku bersyukur atas setiap masalah yang Tuhan beri. Masalah keuangan karena timpangnya pengeluaran yang tidak sebanding dengan pendapatan. Seperti lingkaran setan. Tidak ada jawaban. Akhirnya tahun lalu aku memutuskan untuk tinggal di rumah mamah agar bisa "bekerja". Memboyong bayi tiap pagi "nunut" suami dan pulang malam "nunut" suami lagi bukan hal yang mudah. Tiap hari begitu. Karena sinyal. Mau bagaimana lagi, kerjanya pakai internet. Kalau cuma duduk diam di rumah, tidak akan ada hasilnya. Cuma bisa mengeluh dan mengeluh. Puji Tuhan mulai ada jalan.
Tuhan pun tak lupa memberikan masalah keluarga. Seperti keluarga pada umumnya πŸ˜…. Dari masalah ringan hingga berat. Masalah seperti saat kamu mendengar kata "perceraian" apa yang ada di benakmu? Sesuatu yang biasa atau luar biasa? Aku bersyukur masih bisa melampauinya.
Selama 2 tahun masa kelam aku pun bersyukur masih ada seorang sahabat seiman, yang tetap mau mendengarkan seringan ataupun seberat apapun masalahku. Aku introvert tapi entah dengan dia aku bisa terbuka. Tanpa beban. Tanpa rahasia. Aku tahu masalahnya. Begitupun sebaliknya. Kami terbiasa bercerita dari hal yang biasa sampai yang mungkin orang dengar menjemukan πŸ˜…. Aku bersyukur Tuhan mengenalkannya dalam hidupku. Menguatkanku dalan setiap masalahku. Dia tidak pernah berkata akan selalu ada, tapi nyatanya ada. Dia tidak pernah membuat slogan "sahabat selamanya" tapi dia membuktikan dengan selalu ada.
Dua tahun yang menjadi titik terendah dalam hidupku. Dua tahun yang kelam. Dua tahun yang enggan aku lalui lagi. Aku bersyukur dalam 2 tahun kelamku Tuhan membukakan mataku untuk segala hikmah, duka, suka, cobaan dan berkat. Siapa yang ada saat kelamku, siapa yang ada saat sukaku. Siapa yang ada menghibur dukaku dan siapa yang tertawa dalam kesulitanku. Tuhan beritahu.
Tahun ini Tuhan berikan berkat yang sama sekali tak pernah terbaca. Bukan pamer. Seperti kalimat-kalimat motivasi yang sering keluar saat di-googling. Tuhan berikan pelangi sehabis hujan. Tuhan berikan berkat setelah beragam cobaan yang ada.
Ketika kamu sedang merasa diuji, jangan menyerah. Belum tentu orang lain yang kamu lihat sebahagia kelihatannya. Jangan menyerah atas segala ujianmu. Mungkin itu cara Tuhan agar kita bisa lebih berpasrah diri 😊.

Sering Nyasar Dimari

 

Praise The Lord Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez